Aku terlahir di suatu desa yang masih dihiasi dengan perumahan tradisional khas daerahku. Sudah ada beberapa rumah modern di sana. Rumah peninggalan kakek nenekku merupakan rumah tradisional yang besar. Sekarang, rumah tersebut tidak berpenghuni. Keluarga besar kami sudah menjalani hidup masing-masing di tempat yang berbeda. Mereka menempuh jalan yang berbeda-beda. Nama desa ini adalah Batu Bandung, masih masuk daerah kabupaten Kepahiang, provinsi Bengkulu, pulau Sumatra. Dulu, daerah Bengkulu termasuk dari provinsi Palembang dan telah mengalami pemekaran sehingga sekarang berdiri sebagai provinsi tersendiri. Ada berbagai macam etnik dan bahasa daerah di Bengkulu. Ada yang menggunakan bahasa melayu Bengkulu, bahasa Bengkulu Selatan (Seluma), Rejang, dan banyak lagi. Aku tidak tahu secara pasti ada berapa bahasa di Bengkulu. Contoh-contoh yang ku sebutkan adalah bahasa yang ku dengar langsung dari penutur asli (kebanyakan dari temanku). Karena perbedaan bahasa inilah, aku tidak bisa menggunakan bahasa kedua orang tuaku.
Aku adalah anak dengan orang tua yang sangat berbeda suku dan budaya. Ayahku adalah keturunan Rejang asli sementara ibuku keturunan suku Minang dengan marga Pitopang. Suku Minang adalah suku yang paling mendominasi di provinsi Sumatera Barat yang terletak di atas provinsi Bengkulu jika dilihat dari peta. Juga suku Minang adalah suku matrilineal terbesar di dunia. Artinya, garis keturunan suku Minang dinisbatkan kepada Ibu. Karena itu ibuku berkata aku tetap mendapat marga dari ibu karena perempuan memiliki kedudukan lebih tinggi daripada laki-laki jika dilihat dari sudut pandang adat Minang. Karena semua adik-adikku perempuan, maka warisan keluarga nenekku akan banyak diberikan kepada aku dan adik-adikku karena ibuku memiliki anak perempuan terbanyak dibandingkan kakak-kakaknya. Dan ya, ini memicu drama keluarga dan tidak penting untuk dibahas.
Berbanding terbalik dengan budaya dan adat suku Rejang alias suku ayahku, laki-laki memiliki kedudukan lebih tinggi. Seperti budaya adat pada umumnya. Sehingga nasabku dinisbatkan kepada ayah. Dan ini membuatku bingung kepada siapa aku harus ikut. Ikut ayah atau ibu? Hmm...
Dan masalah bahasa, aku berakhir menggunakan bahasa melayu Bengkulu meski aku bukan orang yang lahir di kota Bengkulu (ibu kota provinsi Bengkulu). Bahasa melayu Bengkulu agak berbeda jika dibandingkan dengan bahasa melayu Malaysia, Kalimantan, serta Riau. Melayu Bengkulu lebih mirip melayu Jambi atau Palembang di mana bahasa ini sering diakhiri dengan huruf 'O' diakhir kata. Tidak seperti melayu Malaysia yang sering diakhiri huruf 'E'. Jika melayu Malaysia menyebut kalimat "Tidak apa (Indonesia)" sebagai "Tak ap(e)", maka melayu Bengkulu akan menyebut kalimat tersebut sebagai "Idak ap(o)" atau "Dak ap(o)". Kata 'tidak' kalau di bahasa melayu Bengkulu disebut sebagai 'idak' atau 'dak' (di bahasa melayu Malay = tak).
Kenapa aku berakhir menggunakan bahasa ini? Karena dulu, saat ibuku merantau ke Bengkulu untuk memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa jurusan farmasi, ibuku datang sendirian. Di sana, ibuku masih sedikit-sedikit menggunakan bahasa Minang. Pelan-pelan ibuku memahami bahasa Bengkulu dari teman-temannya. Hingga pada akhirnya ketika ibuku memilih menikah di tanah rantau bersama ayahku. Ayahku menggunakan bahasa Rejang dan bahasa ini sangat jauh berbeda dengan bahasa ibuku. Alhasil, ibuku tidak paham jika ayah berbicara dalam bahasa Rejang dan mereka memilih jalan tengah dengan menggunakan bahasa melayu Bengkulu. Inilah asal muasal aku hanya bisa menggunakan bahasa ini karena inilah satu-satunya bahasa yang ku tahu dari kecil (selain bahasa Indonesia). Faktanya, bahasa melayu Bengkulu berfungsi sama seperti bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa penghubung (lingua franca). Bedanya bahasa Indonesia adalah bahasa penghubung resmi negara sedangkan bahasa melayu Bengkulu hanya khusus daerah Bengkulu. Ya, jika seseorang yang menggunakan bahasa daerah berbeda, contohnya orang Manak (Manna) sedang berbicara dengan orang Seluma, meski memiliki bahasa yang berbeda mereka tetap akan mengerti satu sama lain dengan menggunakan bahasa Bengkulu. Jadi, secara teknis aku bisa dua bahasa lingua franca dan seandainya aku sudah mulai mahir bahasa Inggris, aku bisa berbicara tiga bahasa lingua franca. Bahasa Inggrisku masih berantakan dan jelek, tapi aku paham dasar-dasarnya (sedikit, hehe).
Inilah sedikit perkenalan tentang budaya dan bahasa yang ku gunakan. Aku mau sih bisa bahasa Minang dan Rejang. Masalahnya, aku merasa tidak sanggup untuk saat ini. Kedua bahasa memiliki kosa kata yang sangat jauh berbeda. Apalagi Rejang punya alfabetnya sendiri yang disebut sebagai aksara 'ka ga nga' (meski sekarang banyak yang memilih abjad latin). Aku kurang tahu kalau Minang. Setahuku suku Minang menggunakan abjad Jawi (arab melayu). Aku bisa membaca tulisan beraksara Jawi meski lambat dan terbata-bata. Aku pernah mempelajarinya di sekolah dasar. Jika dibandingkan, ibuku berbicara bahasa Minang, bisa bahasa Bengkulu, sudah mulai paham dan bisa berbahasa Rejang, maka ibuku menguasai tiga bahasa. Sementara ayahku, dia berbicara bahasa Rejang, bisa berbicara bahasa Minang, melayu Bengkulu, juga bahasa Indonesia, maka ayahku bisa empat bahasa. Hal ini adalah wajar di Indonesia sebagai bangsa dengan 700 lebih bahasa. Indonesia pernah dinobatkan sebagai negara dengan penduduk trilingual terbanyak di dunia. Kebanyakannya adalah orang yang menggunakan bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris. Dan yah, hanya itu saja. Sampai jumpa.
@ra_alandunisi · Aku Khira dan nama penaku Ra_alAndunisi. Hobiku adalah menulis, berpikir, berimajinasi dan menggambar. Aku suka apapun tentang seni, dan aku suka tulisan-tulisan yang menginspirasi atau puisi. Kalian bisa menemukanku di Reddit dengan username u/Khi-R.
Marginalia