Sendirian

Ra_alAndunisi
Ra_alAndunisi
7 min readPersonalfeeling sad 😢

Kakiku bergetar dan lelah. Semuanya dibebankan padaku. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku merasa kalau cinta itu bagai hutang. Di rumah, aku bersandiwara. Jarang bisa jujur dengan semuanya. Aku merasa tidak nyaman. Jariku tidak lihai mengetik. Aku merasa lemah. Kenapa seperti berjuang sendiri? Maksudku, aku punya orang tua. Aku punya hak mendapat pengobatan. Aku punya hak dikasih sayang. Tapi, mereka membuatku merasa aku harus melakukan sesuatu. Baru lah aku dicintai. Aku harus berguna. Harus selalu nurut. Harus selalu mendengar. Mereka selalu membuatku merasa bersalah. Aku diancam akan mendapat azab seperti Juraij kalau aku tidak mendengar panggilan mereka. Padahal, mereka lebih buruk dari itu. Aku pernah mengalami perundungan saat masih di sekolah dasar. Aku meminta tolong dan mereka tidak menanggapiku hingga 3 tahun. Seakan mereka tidak percaya dengan ceritaku. Ayahku baru menolongku karena akhirnya pada suatu hari aku pulang dengan jejak sepatu besar di punggungku. Barulah ayah mau bertindak. Bayangkan, 3 tahun, 3 TAHUN! Sedangkan Juraij menolak panggilan ibunya hanya selama 3 hari! Aku tahu durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar, tapi DURHAKA KEPADA ANAK, TIDAK MENUNAIKAN HAKNYA, TIDAK MENDENGAR MINTA TOLONGNYA, DAN TIDAK ADA DI SAAT-SAAT TERENDAHNYA, BAHKAN MENJADI ALASAN DIA HAMPIR BUNUH DIRI, JUGA MERUPAKAN DOSA BESAR! Bukankah hakku untuk merasa aman? Bukankah aku adalah anak yang kalian nanti-nantikan? Aku tahu doa orang tua mustajab, tapi aku kurang setuju dengan kesimpulan artikel tentang Juraij yang aku taruh linknya di atas. Allah mengabulkan doa siapa yang dia kehendaki, dan menolak siapa yang dia kehendaki. Dengan hikmah dan kuasanya dia menakdirkan doa tersebut terkabul dan tidak semua doa jika orang tua tidak berdasar atau punya alasan jelas mendoakan kejelekan bagi anaknya dikabulkan Allah. Allah Maha Adil, Dia mengabulkan dan menangguhkan doa sesuai dengan hikmah yang Dia, Sang Maha Bijaksana, miliki. Jadi, ada hikmah tersembunyi kenapa doa ibu Juraij dikabulkan dan beberapa doa buruk lain tidak dikabulkan. Kembali lagi, Juraij adalah ahli ibadah, sedangkan kedua orang tuaku hanya orang biasa. Dan mereka sangat keterlaluan mengancamku dengan kisah Juraij, tapi mereka sendiri menolak panggilanku selama 3 tahun.

Dan aku mengalami depresi, penyakit yang tiada pernah ku sangka akan ku rasakan. Dan ini adalah hal yang benar-benar mempersulit hidupku. Seakan-akan ada sesuatu yang membakar hatiku, memberatkan pundak dan dadaku, membuatku lelah dan menghilangkan harapanku. Aku yakin ada yang aneh dengan diriku. Singkatnya, aku meminta mereka membawaku berobat. Dan ya, mereka menertawakanku. Aku tidak ingin menceritakannya secara detail, intinya aku harus berusaha meyakinkan mereka agar mereka membawaku ke psikiater. Karena aku sudah mengalami gejala psikosis yang sangat mengganggu hidupku. Aku tidak ingin kehilangan kewarasanku. Setelah 9 bulan aku membujuk dan berusaha meyakinkan, akhirnya aku ke psikiater. Tapi, tetap saja mereka membuatku tertekan. Baru minum obat sudah disuruh berhenti. Obatnya berbahaya katanya. Mereka menyuruhku berhenti padahal mereka tidak memberikan kondisi aman dan nyaman bagiku. Lalu aku dilarang minum obat? Sebenarnya yang sakit siapa? Kenapa aku harus mengalah dengan orang sehat? Mereka yang tidak sanggup menghadapi kenyataan dan takut dengan perkataan tetangga dan sanak keluarga, memaksaku untuk berperilaku seakan tak jadi apa-apa. Kadang aku merasa ayah memproyeksikan kegagalannya padaku. Dia seorang yang kesulitan mengendalikan marahnya. Dan selalu memarahiku agar aku menjadi wanita yang tidak pemarah. Padahal alasan aku sering marah karena aku dilempar batu dan pasir. Tetap saja yang disuruh jaga image aku. Mereka juga menolak panggilanku selama 9 bulan, bertambah sudah angka 3 tahun tadi. Aku pernah menulis hal ini agak lebih detail di salah satu post. Aku tidak ingin mengulangi kejadian itu di kepalaku. Tapi kepalaku memberontak dan tidak ingin melupakannya. Begitu pula badanku dan hatiku.

Depresiku belakangan ini kambuh. Aku sendirian, tidak punya tempat cerita di rumah. Karena itu aku menulis diary dan jurnal, dan beberapa aku jadikan blog. Aku sudah sering berpindah tempat. Aslinya tulisan blogku sudah banyak. Aku hanya terlalu lelah untuk memindahkan semuanya ke blog Inkwell ini. Jadi aku memulai lembaran baru. Untuk menghadapi depresi, aku mengobrol di Reddit, mengepost karya seni, melakukan diskusi terbuka, berbicara dengan orang-orang yang punya minat serupa. Kondisiku kala itu mulai membaik, hingga ayah kembali lepas amarahnya. Aku kembali jatuh. Aku harus bangkit lagi, sendirian. Setelah usahaku dihancurkan ayahku sendiri. Aku sedih sekali. Kemarin aku bergabung di forum Frutiger Aero Archive, berharap bisa mengobrol dan memenuhi kebutuhan untuk berinterkasi sebagai seorang manusia. Agar aku tidak sendirian. Rencananya aku juga ingin kembali bergabung ke forum Krita Artists. Aku ingin membagikan art dan berdiskusi atau sekedar ngobrol ringan bersama dengan para artist lain. Aku masih sangat down karena depresi, tubuhku lebih cepat lelah, aku cepat mengantuk, dan kesusahan bangun pagi serta beranjak dari kasur. Entah lah, hidup serasa tak berarti. Tapi aku ingin merasakan hidup impianku, aku ingin mencapai akhir yang bahagia. Karena itu aku harus bangkit. Meski yang menjatuhkanku adalah orang yang seharusnya ada bagiku. Sebenarnya aku sudah pernah menggunakan Reddit sebelumnya dan menjadi anggota di forum Krita, tapi aku menghapus semua akunku karena aku merasa takut, minder, dan insecure dengan diriku sendiri. Sekarang, aku merasa lebih baik dan ingin mencari koneksi. Berusaha menjadi diri sendiri dan menerima apa adanya. Mungkin aku akan kembali ke forum Decker, aku membuat beberapa proyek dengan software ini. Dan aku ingin berbagi juga di forum, jadi mungkin aku akan kembali membuat akun Itch.io. Aku juga sudah lama tidak berbicara di grup Telegram Whimtale. Lama juga tidak berbicara tentang Whimtale, bug hunting, membagikan proyek game, dan melihat proyek orang lain. Aku heran, aku bisa menjadi orang yang banyak bicara di internet, padahal aslinya aku orang yang canggung dan jarang bicara atau bicara tapi kaku. Aku suka melihat, mencoba, dan mendukung proyek indie. Aku termasuk orang yang awal-awal menggunakan Whimtale yang dulu namanya Whimsy. Aku juga memberikan beberapa saran dan menyebarkan proyek ini ke forum lain seperti forum Bitsy. Ada juga game engine indie lain yang menurutku menarik tapi aku belum mencobanya karena terakhir kali aku ke sana belum ada versi desktop, jadi aku masih menunggu. Nama engine-nya Wareware.

Mungkin hidup ini tidak terlalu buruk. Masih banyak hal menyenangkan dan wholesome di luar sana. Aku hanya perlu berusaha untuk bangkit, mencari makna hidup. Ya, aku harus berusaha lagi. ...

Hanya saja, aku masih bersedih. Setiap kali aku menunjukkan karyaku kepada ayah, dia selalu membahas uang. Hingga pada akhirnya, aku malah memberatkan diriku sendiri dan membuatku benci dengan apa yang telah ku buat. Aku serasa diajari jika dunia hanya soal uang. Aku tidak akan dihargai jika aku tidak berguna. Aku sangat sekali merasa aku hanya mendapat cinta dan apresiasi jika aku terlihat 'sukses'. Setiap juara kelas, juara lomba, mereka paling keras berbangga. Ketika ku gagal, hampir jatuh, mereka tiada. Ke mana mereka. Aku merasa cinta bagaikan transaksi. Harus ada sesuatu untuk ditukarkan. Harus menjadi berguna, tidak boleh gagal. Cinta terasa tidak tulus, seakan mata uang dan harus ada bayarannya. Tatapan mereka membuatku merasa gagal. Aku merasa dianggap gagal. Dan kadang, kesalahanku dibesar-besarkan. Jika yang melakukannya adalah orang tuaku sendiri, mereka bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa. Aku tempatnya salah. Aku merasa tidak berguna. Mengapa aku harus mengemis cinta, di tempat di mana cinta adalah hak tetapku. Mereka menuntut diriku untuk memperlakukan mereka sebagai raja dan ratu, sementara mereka memperlakukanku sebagai trofi atau pekerja. Ke mana cinta itu? Bahkan aku sampai pada titik di mana aku rasa cinta yang tulus tanpa syarat hanyalah dongeng. Ku lihat teman-temanku, saat masih sekolah mereka bercerita hal menyenangkan yang mereka lakukan bersama keluarga, sementara aku hanya diam mendengarkan, teriakan dan tangisan bisu di dadaku, aku tersiksa dalam diam. Ku dengar beberapa orang yang ku kenal atau orang-orang tersebut menceritakan si fulan sangat baik dan lemah lembut pada istrinya, pada anaknya, entah lah. Mendengarnya saja membuatku merasa terdisosiasi dari realita. Hal tersebut terasa tidak nyata. Aku merasa tidak mungkin itu terjadi. Haah...

Ketika ku berhasil paling keras berbangga,
Ketika ku jatuh dalam mereka tiada.

Yaa mungkin aku akan menemukan cinta sejatiku dan takdirku akan berubah. Aku yakin pada Allah. Lagi pula, aku berharap pahala dari sabarku. Dosaku terlalu banyak dan aku mengharap pengampunan. Dan berharap kehidupan lebih baik di akhirat, tinggal di istana tinggi nan megah di surga. Dan karena tujuanku adalah membuat koneksi, dan bisa jujur pada diriku sendiri, aku menulis di platform ini, Inkwell. Sejauh ini lumayan nyaman dan menyenangkan. Belum ada gangguan yang berarti. Seperti yang ku bilang, aku suka mencoba dan mendukung proyek indie, jadi meski belum mampu membayar aku tetap mendukung platform ini dengan menulis. Platform ini masih sedikit pengguna sehingga kontribusi adalah hal yang sangat dihargai. Dan aku berharap platform ini menjadi platform dengan komunitas yang solid, loyal, dan sehat.

Ra_alAndunisi
Ra_alAndunisi

@ra_alandunisi · Aku Khira dan nama penaku Ra_alAndunisi. Hobiku adalah menulis, berpikir, berimajinasi dan menggambar. Aku suka apapun tentang seni, dan aku suka tulisan-tulisan yang menginspirasi atau puisi. Aku lebih aktif di Reddit dan beberapa karya ku post di sana. Jadi, jika kalian ingin tahu lebih lanjut, kalian bisa pergi ke profilku, atau sekedar membaca artikel di sini sudah cukup ♥️

← Feed

Marginalia