Tentang Cinta dan Kembali Terhubung

Ra_alAndunisi
Ra_alAndunisi
26 min readPersonalfeeling sad 😢
Tentang Cinta dan Kembali Terhubung

Manusia, sekuat dan setangguh apapun dirinya, dia tetap manusia. Makhluk yang tidak bisa sepenuhnya hidup sendirian. Makhluk yang baginya sangat krusial suatu hubungan meski dia sendiri menolak fakta tersebut. Ego, perlahan dalam senyap menghancurkan seorang insan. Perlahan, ia merayap menghancurkan hubungan, menghancurkan kepercayaan, menghancurkan kewibawaan. Ku lihat dalam hidupku, sesosok yang berusaha selalu tampil tangguh. Tapi, ku merasakan darinya kerapuhan dan kelemahan. Malangnya, dia tidak mau mengakuinya. Kelemahan tersebut lama ditolak, terpendam menjadi sesuatu yang berbahaya. Amarah, apalagi dia seorang yang kuat fisiknya, sungguh sangat menghancurkan. Betapa banyak luka yang tergores akibat amarah yang tak lagi mampu dikekang, lepas dari talinya yang rapuh. Luka-luka tersebut tak kasat mata. Keluarga banyak tak menyadari, ketakutan dan kecemasan berasa dari hal ini. Ayahku, dia tanpa sadar melakukan hal yang menyakitkan hati. Tiap video atau berita tentang penyandang disabilitas mental, seringnya jadi bahan bercandaan. Lupa dia kalau aku juga termasuk dari mereka. Dan sungguh, lebih menyakitkan lagi, candaannya dan pandangannya terhadap perempuan. Aku tahu, pandangan ini lumrah. Hanya saja, aku merasa ada yang salah. Mungkin perasaanku menipuku. Sejatinya tidak begitu, bisa jadi. Ayah selalu memandang perempuan sebagai pekerja rumah, dan memang sudah tugas mereka. Toh dia sudah banyak membantu dengan mencari nafkah dan membeli air 2 galon, jadi dia berekspektasi pada perempuan di keluarga kami untuk melakukan hampir semua pekerjaan rumah. Entahlah, apakah ini hanya perasaanku. Aku takut hal ini bukan kebenaran yang sesungguhnya. Aku berlindung kepada Allah dari prasangka buruk dan menzhalimi orang lain.

Sungguh, aku merasa dikurung di rumah sendiri. Ku tak bisa menjadi pribadi yang jujur. Ekspektasi tak terlihat itu berharap aku tidak bercerita. Sungguh mereka tak sanggup dengan kenyataan bahwa aku termasuk dari golongan yang sering dianggap 'gila' atau kalangan 'istimewa'. Bagiku secara jujur, itu seharusnya bukan masalah. Jika memang seorang insan jujur mencintai, seyogianya dia tetap ada atau mendukung kala yang dicintai berada di fase terendah hidupnya. Ku tekankan sekali lagi, secara jujur bagiku, kepura-puraan adalah cinta yang dipertanyakan. Bukankah kau mencintainya? Lalu, mengapa menjadi masalah bagimu tatkala dia sakit. Memang penyakit semacam ini punya stereotip yang buruk. Sangat buruk dan dipandang rendah. Tapi, jika memang cintamu jujur, kenapa pandangan manusia lebih berharga dari yang kau cinta? Mengapa kau memaksa dia untuk berperilaku 'normal' dan menyalahkannya atas penyakitnya di kala dia sangat membutuhkan dukunganmu? Bukankah dia yang sakit, bukan engkau? Mengapa beban malah ditanggung olehnya sementara kau yang masih dikaruniai kesehatan tak mampu menghadapi pendapat masyarakat? Bahkan kau tetap memilih kata orang daripada siapa yang kau bilang 'cintaku' itu. Dan kebanyakan dari mereka, masyarakat, juga tidak peduli dengan eksistensimu.

Jika dipikir lagi, konsep cinta kala ku lihat kembali sejarah hidupku, maknanya adalah yang lebih kuat akan menggunakan kuasanya untuk mengintimidasi yang lemah agar semua berjalan sesuai dengan kehendaknya. Tetap dia berkata 'cinta', setelah semua yang dia lakukan. Yang di bawah tak banyak berbuat. Tak mampu melawan. Dia dikendalikan oleh ego, tak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf. Bahkan, setelah perkataan yang menyakitkan itu keluar dari mulutnya, dia kadang merendahkan ibuku dengan kalimat 'baperan'. Ibu sangat berhak untuk marah jika diperlakukan buruk. Bahkan siapa pun berhak bukan hanya ibuku. Sungguh, ayah menjadikan stereotip baperan bagi kami, perempuan di rumah. Agar terhindar dari peran pelaku dan orang yang bersalah. Ibu, sama saja dia seperti ayah. Bedanya dia tidak egois dan mau minta maaf jika dia menyadari kesalahannya. Dia dulu selalu berkata 'jika aku melakukan hal yang ibu tidak suka maka aku berdosa', ku tanya kembali 'bagaimana kalau ibu melakukan hal yang sama padaku?' dia menjawab 'ibu tidak berdosa atas anak-anaknya'. Jujur, jawaban tersebut menyayat hatiku. Di pundakku, terbebani harapan dan ekspektasi anak yang sukses dan berbakti, tapi tak dapat meminta hak dan keadilan atau menuntut jika mereka melakukan hal yang aniaya padaku. Aku sakit hati, sendirian. Tiada yang benar-benar ada untukku. Bahkan di kala aku berada di situasi genting, kala depresi makin parah dan bisikan bunuh diri menjadi teriakan, dan ku tidak tahu saat aku menelepon dari asrama pondok bahwa ayahku demam, ayah malah membentakku. Dia bilang aku hanya menyusahkan dia dan perkataan yang bermakna "Matilah sana! Ayah sudah muak!" Hati dan badanku serasa hancur berkeping-keping. Ibuku bahkan menyuruhku untuk diam dan aku terpaksa mengalah. Rupanya demam ayah lebih penting daripada sakitku ini. Salah dia juga kenapa dia demam. Hanya bolak-balik pulang pergi menjemputku dan mengantarku ke asrama setelah berusaha meyakinkan diriku untuk berbohong pada diriku sendiri kalau aku sehat. Aku normal. Sangat egois. Mengapa tidak langsung membawaku ke seorang profesional daripada menghabiskan waktu dan tenaga seperti ini? Hanya demi ego seorang yang sehat, 'cintanya' yang sedang sekarat batinnya harus mengalah? Aku jadi ragu dengan cinta.

Usut punya usut, belakangan ini karena ku semakin dewasa, aku mulai paham kenapa ibu menjadi seorang yang penuh cemas dan penakut. Padahal ibuku dulu pada masa mudanya adalah orang yang tangguh dan percaya diri. Inilah letak kesalahan terbesar ayahku. Ayah membuat ibu teralu takut untuk jujur. Dia tidak berani marah. Seakan-akan ada tali yang mengikat lidahnya. Semuanya karena takut jika sesuatu ada yang salah dan dapat memancing kemarahan ayahku. Dan parahnya, dari mataku ku lihat, ibu tak mampu membedakan mana cinta dan mana takut. Kadang disaat ibu merasa takut, menuruti keinginan ayahku, dia berharap pahala karena cinta yang dia berikan pada ayah. Jika mau mendengar perkataanku yang jujur, tidak. Itu takut yang menyamar sebagai cinta. Meski kadang bingung mana takut mana cinta, tanpa ragu ibuku memiliki rasa kasih dan simpati yang besar. Pernah ku bilang kalau ayah telah mencuri jika dia mengambil makanan milik adikku tanpa dia tahu. Memang ini terlihat sepele. Tapi, hal sepele jika menjadi kebiasaan akan sangat berpengaruh buruk pada kepribadian, cara berpikir, dan citra diri. Ibuku bilang lupakan saja. Lagi pula yang minta kan ayah. Jadi ibu akan terus membela ayah meski dia salah? Ibu bilang dia akan selalu membela ayah karena cintanya yang besar. Sebesar apapun cinta ibu pada seseorang, itu tidak akan menghapus kesalahannya. Dia tetap bersalah dan tidak pantas untuk dibela. Kebenaran dan keadilan lebih tinggi dari siapa pun. Begitulah ucapku pada ibu. Umpamanya, anggaplah seorang ibu sangat mencintai anaknya. Esok hari pihak sekolah menelepon dan mengadu anak tersebut telah mematahkan hidung seseorang. Kalau mengikuti logika ibuku, maka ibu tersebut akan membela anaknya meski telah membuat seseorang mengalami luka parah. Bukankah hal ini dapat menyebabkan perpecahan di sekolah, rusaknya pertemanan, ketakutan, dan penganiayaan? Karena itu, keadilan dan kebenaran berada di atas cinta.

Ayah di mataku kadang tidak terlalu ambil pusing dengan ibu. Pernah kami makan rambutan dan kami telah membagi secara adil, semua mendapat porsi yang sama karena keluarga kami punya banyak anggota. Sayangnya, 2 rambutan punya ibu busuk jadi aku memberikan dari bagianku satu untuk ibu. Eh malah ibu kasih ke ayah sebab ayah memintanya. Aku kesal dan mengomeli ayah kalau itu untuk ibu. Ayah bilang aku tidak ikhlas memberi. MEMANG AKU TIDAK IKHLAS MEMBERI UNTUK AYAH, KAN SEJATINYA AKU MEMBERINYA UNTUK IBU. Ayah sudah mendapat bagiannya bahkan tidak ada yang busuk, malah minta lebih kepada ibu terlebih lagi aku melihat wajah lelah ibu. Ini bagaimana ini. Mau panggil aku tidak ikhlas, pelit, terserah, fakta yang akan berbicara dan membelaku serta menunjukkan siapa yang sebenarnya menyebalkan itu.

Pendapatku yang lain tentang konsep cinta, aku hanya mendapatkannya jika aku melakukan sesuatu yang luar biasa, atau terlihat berguna, dan melakukan sesuatu yang dapat dibanggakan, sebagai bayaran terlebih dahulu baru aku mendapat cinta. Jika aku terlalu lama tidak melakukan sesuatu yang dapat dibanggakan dan aku terlihat malas (karena aku punya depresi), maka cinta itu akan terasa bagai hutang. Aku harus membayarnya atau aku akan dicap tidak berguna dan hanya menghabiskan uang. Contohnya beberapa hari yang lalu, ayahku memberiku tugas baru untuk mengurus seekor bayi Lovebird. Aku harus memberinya makan setiap 3 jam saat ayah pergi kerja. Beberapa hari berjalan dengan normal, hingga pada suatu hari aku benar-benar lupa untuk memberi bayi burung itu makan. Sore hari itu ayahku pulang, seperti tidak punya pembicaraan lain dan langsung menuju prioritasnya, ayah langsung menanyakan kabar bayi burung itu. Aku dan ibuku kaget karena kami berdua lupa. Aku langsung membawa makanan burung dan mengambil sangkar. Dia dengan muka yang mengerut menyuruhku berhenti, biar dia saja yang melakukannya. Setelah itu, dia marah besar. Entah celotehan apa yang keluar dari mulutnya. Aku berusaha menjauh ke tempat lain. Membiarkan ayah meninju dinding dan menendang kursi. Aku tahu, memang jika seseorang sedang marah, alangkah baiknya memberi dia ruang dan menjauh untuk meredakan amarahnya. Wah, betapa bodohnya ayahku. Dia sendiri datang mencariku hanya untuk membentak dan memarahiku. Dia bilang aku hanya sibuk lihat HP laptop HP laptop, bilang aku tidak pernah membantu ibu, dan membuatku seakan-akan tidak pernah berkontribusi di rumah ini dan menjadikanku kecil sekaligus menanggung rasa salah yang besar. Lupa dia kalau aku yang membantu ayah bekerja, aku juga setiap hari membantu ibu, dan akulah yang memberi makan bayi burung yang lebih ayah sayangi dari diriku itu, dan semua itu lenyap. Tiada sisa untuk menjadi pembelaanku. Dan aku terlalu takut untuk membela diri, aku sudah cukup trauma dengan hal semacam ini. Terlebih, aku dianggap pemalas, tukang marah, dan penghabis uang. Sedangkan julukan baikku, dilupakan begitu saja. Emosiku juga tidak stabil, dan aku yang terus disalahkan karena hal ini. Tanpa ayah sadari kalau aku adalah hasil dari dirinya yang tak mampu menahan marah dan terlalu egois untuk mengakui kalau dia punya masalah dan perlu terapi. Baginya, olahraga, diet sehat, dan angkat beban sudah cukup. Padahal instingku berkata ayah belum benar-benar lepas dari masalah marahnya ini. Aku yakin ada beberapa hal dari masa lalu yang menjadikan ayah seperti ini. Dan topik ini terlalu sensitif dan beresiko. Antara aku akan dimarah atau aku kena ad hominem dari ayah karena aku lah yang secara resmi memiliki depresi dari psikiater. Ya, aku berhasil ke psikiater. Tapi selama aku berobat ayah berusaha untuk membuatku berhenti dengan dalih obat tersebut berbahaya. Masalahnya, aku baru awal-awal berobat, masa mau berhenti. Dan situasi di rumah kurang ideal untuk membuatku pulih tanpa obat. Pada akhirnya saat aku sudah berusaha menolak ajakan ayahku dan memberi penjelasan, setelah terkena gaslighting dan merasa bersalah padahal aku tidak melakukan apapun selain berusaha sembuh, terpaksa aku berhenti karena tekanan ini terlalu berat bagiku. Setelah itu, depresiku semakin memburuk hingga sampai pada cerita sebelumnya saat aku dibentak ditelepon gegara aku meminta tolong karena takut bundir. Yaa, intinya kalian bisa baca entry jurnalku yang sebelumnya atau lihat posku yang ini di Reddit.

Contoh yang lain saat masa-masa masih berobat, aku sangat bersyukur pada Allah karena hari itu aku merasa bahagia dan perjuanganku tidak sia-sia. Aku bahagia sekali hingga harapan baru muncul. Banyak hal yang ingin ku lakukan dan cita-cita yang ingin ku capai. Aku melihat masa depan bagai cahaya yang terang benderang. Senyum ceria itu lenyap saat pulang dari berobat. Ayah dengan nada marah bilang nanti saja beli es krim. Dan hingga sampai di rumah ayahku tidak membelikan es krim. Aku masih normal karena kondisiku sudah mulai stabil, dan kalian tahu apa yang ayahku katakan setelah nikmat Allah ini diberikan? Ayah memarahiku, bilang aku hanya menyusahkan hidupnya, membuatnya capek dan penat, serta menghambur-hamburkan uang. Dia bilang sebenarnya siapa yang sakit? Aku atau ayah? Dia beranggapan aku ini sehat karena aku tidak sedang mengalami pilek seperti dia. Dan dia memarahiku karena tak mampu merasakan dan melihat penyakit yang ku alami. Dia menyalahkanku dan dengan paksa merobek hatiku dan menghilangkan senyuman serta harapanku beberapa menit sebelum itu. Karena aku sudah di rumah selama 2 bulan lebih, mengambil cuti saat yang lain masih belajar di sekolah. Karena aku beristirahat dan terlalu lelah untuk berdiri. Karena aku belum membayar hutang cinta, harus melakukan sesuatu yang berguna atau membanggakan dulu baru mendapat cinta. Seperti yang ku ucapkan sebelumnya. Secara tidak langsung, ayahku tidak mensyukuri pemberian Allah, padahal inilah yang selama ini ayahku inginkan. Senyuman dan kebahagiaanku, tapi dia kalah dengan ego dan amarahnya sendiri. 2 hari kemudian barulah dia memberiku es krim sesuai dengan janjinya. Masalahnya kerusakan telah terjadi, tak dapat dikembalikan, tak dapat dilupakan, dan mungkin aku tidak akan merasakan kebahagiaan itu lagi. Dan hatiku sudah putus asa untuk percaya pada cinta. Kapan hakku ini dipenuhi dengan sebenar-benarnya? Cinta tak bersyarat adalah hak tiap anak. Mengapa aku harus bekerja dulu untuk membayar baru ku dapatkan?

Ku lihat adik-adikku apalagi yang mondok. Segala kebutuhan dan keinginan dipenuhi. Sementara aku yang memutuskan berhenti sekolah karena tak sanggup, setelah dibentak saat menelepon itu, ku hanya bisa berharap. Adik-adikku punya banyak jajan. Mereka bisa minum susu dan mandi dengan sabun yang bagus. Juga dengan skincare mahal. Sementara aku jika ingin seperti itu harus menabung. Harus bekerja dan berharap. Karena aku tidak lagi bersekolah. Tidak lagi membanggakan. Bahkan kadang diperlakukan bagai aib. Ketika ada yang bertanya alasannya hanya alibi. Tidak konsisten pula kebohongan mereka. Mereka kadang bilang aku kerja (padahal kerjanya serabutan, tidak tetap, dan jarang) kadang bilang aku kuliah, padahal tidak resmi. Aku masih mengambil paket B, belum juga paket C, dan pendidikan ini gratisan. Dan kualitas pendidikan gratisan di negeri ini bisa dibilang agak buruk. Jika ku meminta pendidikan khusus yang cocok untukku tapi harganya mahal, dan itu lumrah, aku disuruh menggunakan uangku sendiri. Padahal aku sangat kesulitan. Bangun dari kasur saja harus usaha. Dan mereka wahai orang tuaku, tak mampu menerima kenyataan. Dan beban ini aku yang tanggung. Beban keegoisan dan ketakutan mereka. Mereka ragu dengan kemampuanku. Mereka pesimis saatku bilang aku ingin belajar. Menempuh pendidikan jalur tidak formal. Tiada yang mendukungku. Padahal aku masih punya tekad sembari berusaha untuk tetap hidup. Di depan adik-adikku mereka optimis, bilang jangan khawatir ayah ibu yang akan urus. Uang dan perut mereka terjaga. Tapi giliranku tampak lah watak aslinya. Mereka penuh takut dan cemas. Pesimis lagi memaksa. Dengan sugesti dalam balutan ilmu sains. Ilmu 'Law of Attraction' dan 'The Secret' yang bagiku omong kosong. Bilang saja ini menipu diri sendiri dengan gaya. Tanpa mereka tahu toxic positivity itu ada.

Kembali lagi ku lihat, aku sudah diposisikan sebagai orang dewasa karena aku anak sulung. Sudah hilang masa kecilku. Dirampas karena paksaan untuk dewasa lebih awal. Memahami dunia yang kejam di usia belia. Karena itu orang tua lebih jujur dan terus terang padaku tanpa hiasan apapun, bungkus apapun. Dan mereka seringnya tidak memperhatikan mulut mereka ketika bicara. Sehingga banyak hal yang seharusnya aku tidak tahu di usia itu, malah aku tahu. Mengkritik tetangga, teman kerja, dan menganggap sebagian perilaku mereka bodoh serta kadang menertawakan mereka atas masalah yang orang lain alami dan menjadikan mereka bercandaan, tanpa sadar ini mempengaruhiku dan aku menjadi orang yang dulu suka menertawakan orang lain. Saat aku sadar kesalahanku aku berusaha diam. Dan aku merasa masa kecilku rusak karena hal itu. Dan mereka tidak hadir pada satu waktu kala itu sehingga aku harus dewasa bagi diriku sendiri. Tahu mana yang berbahaya mana yang tidak. Apalagi ketika konten dewasa tak sengaja ku lihat di internet. Aku menangis karena takut dosa, tapi ibu diam tak melakukan apapun. Dan seakan tak terjadi apa-apa besoknya ibuku berkegiatan seperti biasa. Padahal apa yang ku lihat menggoyangkan mentalku. Saat itu aku masih kanak-kanak. Ku ceritakan lagi peristiwa ini saat usiaku pas di bawah julukan kepala dua, adikku tertawa dengan ceritaku. Dia bilang kenapa harus menangis? Itu bukan masalah besar. Ibuku setuju dengan pendapat adikku dan dari situ aku tahu, mereka tidak terlalu menganggap pornografi berbahaya bagi anak-anak. Dan sakit hatiku semakin menjadi. Andai mereka tahu akibat pornografi pada diri kecilku dulu hingga aku dewasa sekarang.

Lagi-lagi, hatiku yang iri ini sekaligus mempertanyakan, Kenapa aku diperlakukan tidak adil? Ayah dan ibu hampir tidak pernah membicarakan tentang kesulitan uang yang mereka alami di depan adik-adikku. Sehingga adik-adikku merasa ringan meminta uang meski keuangan orang tuaku sedang di masa sulit. Dan mereka tidak diminta untuk memahami serta tidak dimarah karena tetap meminta uang. Sementara aku, mereka akan membujukku untuk memahami keuangan mereka yang tipis. Terpaksa aku menjadi manusia hemat dan jarang jajan agar bisa membeli kamus bahasa Arab al-Munawwir dengan harga Rp200.00,00. Jumlah tersebut begitu besar bagiku. Apalagi aku berhasil membelinya setelah mengikat perut dan berhemat. Kala diriku berhenti mondok, adikku (yang paling ku benci) dengan acuh tak acuh meminta kamus yang aku bersusah payah membelinya tanpa berpikir betapa susahnya mendapat kamus tersebut. Awalnya sih aku biasa saja dan akan memberinya kamus itu. Tiba-tiba aku tersentak, aku teringat bagaimana aku berhemat dan membatasi jajan. Saat melihat adikku, dia orang yang boros serta lebih memilih menghabiskan uang orang tua daripada uangnya sendiri. Aku ingat, dia pernah punya uang sebanyak Rp600.00,00, dan dia lebih memilih minta barang orang padahal dia punya uang serta di saat orang tuaku sedang mengalami ekonomi sulit!? Tentu saja aku menolak memberikan kamusku dan aku ingin mengajarinya betapa pentingnya uang dan berhemat. Belum sempat mengajari adikku pelajaran berharga, ayahku memarahiku karena menganggapku pelit. Tidak memahami situasi ekonomi dan segala macam. Padahal aku baru saja ingin membela ayah. Dan sekali lagi, aku yang salah. Dengan berat hati ku berikan kamus tersebut pada adikku. Dia bahkan tidak bilang terima kasih. Di mataku, dia anak yang paling jelek etikanya terhadap keluarga, serta paling menjaga citra jika itu di depan temannya. Jadi, ringkasnya, di mataku dia terlihat seperti seorang pecundang yang lebih memilih temannya yang sementara itu dibandingkan keluarga sendiri yang sedarah dengannya serta telah menopang diri dan keinginannya. Termasuk aku. Aku tidak ingin membicarakan masalah ini karena bukan topik tulisanku kali ini. Intinya kalian sudah dapat sedikit gambaran dari orang yang tidak tahu terima kasih ini. Dan aku heran kenapa dia lebih didengar dan tidak banyak diberi beban ketimbang diriku. Serta aku belajar, aku tidak punya otoritas atau bagian memimpin di rumah ini terhadap adik-adikku (jika cara, ide, atau penyampaianku tidak sesuai dengan keinginan orang tua).

Apa saja yang telah terjadi padaku, setelah semua ini, membuatku bertanya, bagaimana rasanya cinta sejati? Cinta tanpa syarat nan tulus. Tiada dusta tiada citra. Bagiku hal tersebut terasa bagai dongeng. Tidak nyata. Hingga suatu hari, aku dipinjamkan suatu buku berjudul "Satu Atap Satu Hati Dua Dunia". Buku ini bukan fiksi, bukan pula novel romantis dengan berbagai trope-nya, bukan pula cerita yang memiliki fandom di mana sudah banyak penggemar melakukan 'ship' pada tiap karakter (kadang aku merasa aneh dan jijik dengan fanfic yang intinya menjodohkan seseorang dengan orang lain di dunia nyata). Ini adalah memoar seseorang, kisah nyata di mana dia bersabar dan berusaha mencari jalan bagaimana agar istrinya sembuh dari skizofrenia. Aku belum tamat membaca buku ini, aku berhenti di pertengahan. Buku ini lagi ramai dibahas oleh keluarga, teman-teman pondok, dan para ummahat dan abaa', para asatidzah pondok, dan anak-anak pondok (ya, kami punya komunitas). Dan salah satu adikku membeli buku ini. Dia meminjamkannya padaku. Ku dengar banyak dari orang-orang yang ku kenal membaca buku ini. Bahkan sampai meneteskan air mata, terharu dengan cerita yang disediakan. Buku ini bisa dibeli di KitabSyabab.id, dan termasuk buku yang laris di sana. Saat membaca buku ini, ya, aku sedikit meneteskan air mata. Bukan karena haru, tapi karena melihat nasib hidup sendiri. Sungguh beruntung wanita tersebut mendapati suami yang rela mengorbankan profesinya sebagai guru, mengeluarkan uang, hingga mencari tempat tinggal yang lebih damai, hanya agar istrinya bisa tersenyum kembali. Hatiku tertusuk, lelaki ini bagai dongeng. Tidak mungkin cerita ini nyata. Apa alasannya dia tidak mudah marah? Bagaimana ia bisa dengan jujur menunjukkan cintanya? Bagaimana dia bisa sangat setia pada istrinya? Kenapa cintanya begitu besar, jujur, dan tulus? Tidak peduli apa kata buruk keluarga dan masyarakat? Sementara aku, aku harus mengalah. Pada ayahku yang sehat wal afiat. Aku punya depresi hingga pernah mengalami gejala psikosis berbulan-bulan, dan aku tetap ditekan untuk berhenti berobat dan 'memaksaku' untuk terlihat dan hidup normal. Semuanya tentang sandiwara, semuanya tentang performasi, bukan tentang kejujuran dan ketulusan, bukan tentang keberanian dan kesetiaan. Aku, saat ini dengan kakiku, berdiri di atas panggung sandiwara. Aku dipaksa terlihat sehat, dipaksa tersenyum, jika menceritakan secara jujur mereka membuatku merasa seperti melakukan dosa besar. Padahal, jika dibandingkan dengan adik-adikku, apalagi ada yang akan bersekolah di pulau seberang, biayanya berjuta-juta, sementara aku yang dulu berobat dengan kartu BPJS alias gratis, masih disalahkan. Diberi ceramah yang membuatku semakin goyah, pertanyaan-pertanyaan keraguan, dimarahi, dianggap menghabiskan uang, beban, banyak lah. Kenapa? Aku sangat yakin kali ini yang banyak menghabiskan uang adalah saudari-saudariku. Lalu, apa hanya aku alasan utama uang keluarga habis? Tidak mungkin hanya aku! Semua orang di keluarga ini perlu untuk menghabiskan uang agar mampu bertahan hidup! Ayah membeli air dan ibu membeli bahan pangan. Adik membayar kas kelas, ayah membayar biaya sekolah. Ayah juga menghabiskan uang untuk hobi, pelihara burung, kucing juga, ikan juga. Lalu, kenapa selalu aku?! Padahal aku saat itu menggunakan BPJS! Dan setelah dipaksa berhenti ke psikiater, berbulan-bulan lamanya, aku minta pergi ke psikolog karena kondisiku memburuk, harga tiap kali pertemuan hanya Rp150.000,00! Bandingkan dengan adikku yang akan mondok ke Jawa! Biaya peralatan dan kitab-kitab bisa sampai 2 juta lebih! Belum juga SPP. Aku, hanya Rp150.00,00 tiap pertemuan, itu pun kurang lebih cuma sebulan pertemuan, dianggap beban dan penghabis uang! Pemikiran macam apa ini?! Apa karena aku tidak punya harapan untuk sukses dan aku dipandang sebagai anak gagal?! Atau aku sudah kehabisan sesuatu yang membanggakan bahkan aku sekarang adalah aib? Atau aku tidak menghasilkan? Apalagi ini? Mengapa kalian begitu lemah wahai ibu dan ayah? Tidak sanggup menghadapi kenyataan dan menolong anak yang dulu sangat kalian impikan. Ironis sekali. Kalian memberiku ekspektasi yang terlalu berat, giliran aku meminta keadilan, ekspektasiku harus diturunkan. Psikologku berkata seperti itu padaku. Panjang ceritanya dan aku memaklumi hal ini karena dia baru saja bekerja. Tenaga kesehatan bidang mental, psikolog dan psikiater, hampir tidak ada di tempatku. Jika memang sangat perlu bantuan, tak jarang rumah sakit daerahku merujuk ke rumah sakit di kota Bengkulu.

Ibu pernah berkata dia akan selalu memaafkanku, dia bilang ayah sangat sayang padaku, hanya menginginkan yang terbaik, blablabla. Masalahnya, kalian adalah penyebab aku hampir bundir! Kalian tidak mampu menerima kenyataan dan menyuruhku berpura-pura! Dulu di sekolah dasar, aku dirundung selama 3 tahun dan setiap kali aku mengadu tiada respon berarti! Hingga kalian lihat sendiri aku pulang dengan jejak sepatu besar mengotori seragam putihku di bagian punggung. Bahkan kalian sendiri tidak ingin percaya hingga 3 tahun kemudian bukti itu datang baru kalian bertindak! Sebenarnya aku ini apa? Anak kalian bukan? Ya, kalian tidak sepenuhnya jahat. Tentu saja banyak kebaikan yang kalian lakukan. Tapi, jangan jadikan kebaikan kalian sebagai penutup dan senjata yang menyembunyikan dan meniadakan keburukan kalian. Jika seseorang melakukan kebaikan lalu melakukan keburukan, dia punya satu kebaikan dan satu keburukan. Keburukan tersebut tidak akan hilang sampai dia memperbaikinya. Jadi, jangan berlindung dengan kalimat "Ibu yang melahirkan kamu, yang memberi makan, mengganti popok, ayah dulu membelikan kamu mainan, kamu anak kesayangan" dan semacamnya. Menghindar dari tanggung jawab, apalagi tanggung jawab yang besar, adalah hal yang sangat rendah dan pelakunya dianggap pengecut, pecundang, dan tidak kompeten. Kalian selalu menyalahkanku karena kadang aku tantrum, etika buruk, dan sebagainya, saat kalian sendiri mengabaikan hakku. Mengabaikan kewajiban kalian untuk memberi rasa aman bagiku. Kalian lah yang gagal dan kalian tidak mau mengakuinya. Pengecut sejati.

Entah lah, aku rasa orang tuaku lebih membutuhkan terapi dibandingkan yang mereka kira. Ibu punya kecemasan dan ayah kurang mampu mengontrol marah. Mereka perlu tapi mereka tidak mau mengakuinya karena takut dipandang gila dan menjadi aib (sebagaimana diriku). Sudah, aku rasa cukup. Konsep cinta, tidak masuk akal bagiku. Untuk saat ini biarlah seperti itu. Aku yakin di masa depan akan ada yang mencintai dan menerima kekuranganku. Aku tidak harus bekerja untuk mendapat cinta itu. Aku tidak harus bersandiwara untuk menjaga keharmonisan. Buku itu meski belum tamat ku baca telah memberiku harapan akan ada seorang lelaki yang lemah lembut dan tidak kasar, yang akan mencintai diriku meski kekuranganku ini sangat tabu di daerahku. Aku yakin pada Allah.

Kalian tahu lah sekarang betapa kesepian diriku. Meski di rumah ramai dan penuh canda tawa, hatiku kesepian dan sakit. Aku perlu mencari interaksi dengan manusia di tempat lain. Aku perlu interaksi sosial yang ramah dan aman. Di mana aku bisa sedikit lebih jujur dan terbuka. Karena itu aku menggunakan Reddit. Awalnya, karena aku melakukan edukasi mandiri untuk diri sendiri (karena aku merasa tidak didukung untuk mencari ilmu yang bukan jalur formal dan karena aku sudah terlambat usia untuk masuk jalur formal). Aku menggunakan akun YouTube-ku untuk menyimpan video-video bermanfaat dan ilmu-ilmu mahal. Jika aku bingung dengan suatu pelajaran, aku bisa bertanya dan membuka diskusi di Reddit. Itulah niat awal aku membuat akun di Reddit. Mungkin kadang ada beberapa orang yang ngetroll dan ngedrama, atau bahkan berkelahi menggunakan keyboard, karena itu aku harus mencari tempat dengan moderasi yang kuat dan menguntungkan anggota, serta tempat yang ramah dan hangat. Namanya juga Reddit. Internet secara keseluruhan juga begitu. Dan siapa sangka Allah menunjukkanku pada komunitas dengan kriteria tersebut. Khususnya banyak dari komunitas seni dan salah satu favoritku adalah r/Perempuan. Tempat perkumpulan perempuan Indonesia dari seluruh dunia. Di sana begitu hangat dan mendukung. Lumayan merasa aman saat pertama kali curhat di sana. Pernah juga mengintip di r/Indonesia. Menurutku tempatnya sangat berbeda dengan r/Perempuan. Banyak sekali pembahasan politik, beberapa meme ada yang menurutku agak bermasalah, dan aku bingung bagaimana mendeskripsikan tempat ini. Kadang postingan di sana normal tapi komentarnya na'udzubillah. Kadang memang dari postingannya yang problematik. Ada juga beberapa yang santai dan ramah, ada yang lucu, tapi aku selalu merasa ada yang jangal. Instingku berkata ini bukan tempat yang aman. Aku tidak bermaksud memburuk-burukkan sub ini. Dada dan badanku menyuruhku menjauh dari sub ini. Aku memilih mengikuti instingku. Lebih baik menjaga diri dalam keadaan yang sedang rapuh ini.

Setelah bersosialisasi dan berkontribusi pada beberapa sub, aku menemukan berbagai macam komentar positif, wholesome, hangat, dan membuatku merasa lebih baik. Untuk mendapat komunitas yang ramah seperti ini memang tidak mudah. Selain karena keberuntungan mendapat tempat yang nyaman, aku harus berusaha untuk bisa menemukannya. Contohnya aku harus melihat seperti apa suasana suatu sub, mematikan rekomendasi, dan mengintip. Sama juga jika aku ingin berpartisipasi di komunitas di luar Reddit. Aku harus tahu seperti apa suasana dan aktivitas member untuk menentukan apakah komunitas tersebut cocok atau tidak bagiku. Aku menemukan beberapa forum independent. Ada yang menurutku tidak cocok ada yang cocok. Setelah sekian lama mengintip atau lurking, beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk bergabung di forum Frutiger Aero Archive. Forum santai dengan tema ala-ala Windows Vista. Di sana menyenangkan, pelan. Pelan maksudnya komunikasi di sana lambat. Karena forum bukan ruang chat. Seperti Reddit lah intinya. Kita membuat thread, dan orang lain kadang menjawab beberapa jam kemudian. Ada pula yang menjawab esok hari atau lebih. Lagi pula anggota forum biasanya berasal dari berbagai daerah di dunia sehingga tentu jam aktif mereka berbeda. Setiap orang juga punya kesibukan masing-masing. Kadang aku membagikan beberapa lukisan yang ku buat di forum ini. Dan perlahan, kebutuhanku atas interaksi sosial mulai terpenuhi. Aku bisa merasa sedikit lebih baik setelah berbicara di Reddit atau forum indie di luar sana. Oh ya, hari ini aku memutuskan bergabung ke forum Grid Sage Games. Ini adalah forum milik developer indie Kyzrati, developer yang membuat Rexpaint, software untuk membuat ASCII dan ANSII art. Dia juga membuat sebuah game roguelike indie bernama Cogmind, tentunya dengan grafik yang dibuat di Rexpaint. Software yang ia buat khusus untuk membantunya membuat grafik game. Aku bergabung bukan karena aku seorang gamedev yang membuat game roguelike, justru alasanku karena aku ingin mencari komunitas artist yang menggambar dengan gaya ASCII art. Terakhir kali aku datang tanpa akun di sana, aku masih bisa melihat thread sebelumnya. Sekarang, aku melihat forumnya diperketat. Ada batas bagi siapa saja yang bisa masuk dan orang yang tidak punya akun tidak dapat melihat isi forum. Mereka beralasan dengan bot yang mengirim banyak spam di forum. Banyak sekali hal yang harus ku lakukan agar bisa registrasi akun di sini. Aku harus menulis huruf-huruf acak, menjawab captcha, juga beberapa perintah menulis huruf tertentu. Sepertinya mereka mengalami masalah serius dengan bot-bot ini, dan aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tambahan, salah satu keuntungan forum indie adalah biasanya anggota forum adalah komunitas yang memiliki minat yang sama dan loyal. Juga karena forum tidak lagi terkenal, komunitas memang sedikit, kadang sepi, maka jarang ada pembicaraan yang bertujuan memercik amarah atau ada yang berkelahi di thread. Itu hanya pendapatku sih.

Selain berusaha berinteraksi, aku kembali menulis jurnal. Aku sudah punya beberapa jurnal dan diary yang penuh. Sayangnya, tulisan-tulisan di jurnal dan diary ini tidak akan pergi ke mana-mana. Kadang, aku senang jika seseorang berbagi cerita. Apalagi jika mereka jujur dan terbuka. Awal-awal menulis di Wattpad dengan berbagai puisi yang menggambarkan depresi yang ku alami, ada beberapa tanggapan positif. Aku bahkan menemukan satu teman di sana. Tapi aku pergi gegara masalah konten pornografi yang marak di sana. Aku sudah pamitan dengan dia. Kenangan yang pahit dan manis sekaligus. Aneh ya, pornografi di Wattpad selain banyak mereka juga lebih laku ketimbang puisi-puisiku. Dan pada akhirnya, setelah perjalanan panjang, di sini lah jurnalku sekarang. Di sebuah platform fediverse yang masih baru. Aku menulis dan berinteraksi dengan orang lain. Membaca blog, berkomentar, aku merasa lebih hidup. Ku tulis jurnalku dengan Obsidian, dan ku publish di inkwell.social. Developer sangat ramah. Aku juga kadang membaca blognya. Dia satu-satunya temanku di Inkwell untuk saat ini. Lucu ya, aku melihat blog ulang tahunnya. Dia rupanya terlampau jauh lebih tua dariku. Aku kira dia masih muda. Mungkin dekat-dekat 20-an umurnya, tidak jauh dariku. Rupanya lebih dari itu. Aku juga ingin punya lebih dari satu teman di sini. Hanya saja karena pengguna di sini masih sedikit, aku belum menemukan orang yang punya minat sama yang ingin ku ajak bicara dan ku jadikan teman pena (istilah mutualan di Inkwell). Mungkin waktu akan menunjukkannya.

Aku masih ingat ayahku bilang aku tidak pernah membantu ibu. Membentakku dan memarahiku karena belakangan ini aku lebih sering melihat layar laptop. Tanpa ia tahu aku sedang mencari koneksi. Aku kesepian dan depresi. Dia, dengan keras kepala selalu mengira aku pemalas. Mungkin aku memang pemalas, tapi aku juga punya depresi. Aku menangis. Tanganku bergetar. Kala itu aku takut dilihat ayah jika menggunakan HP atau laptop. Aku ingin sekali pindah ke tempat yang lebih baik. Dengan keluargaku sendiri. Dengan suami dan anak-anakku nanti. Aku takut menjadi orang tua seperti mereka. Bagaimana kalau seandainya anak-anakku membenciku karena aku tanpa sadar melakukan hal yang sama seperti ayahku? Aku takut. Aku berusaha meyakinkan diriku, aku tidak mungkin seperti itu. Aku sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap kali aku meyakinkan diriku, perasaan takut itu masih ada, bersembunyi di sudut hatiku. Entah lah, aku bingung. Masa depan mungkin lebih baik dipikirkan lain kali. Biarkan diriku menikmati hidupku meski harus didampingi depresi. Aku bersyukur telah menemukan komunitas dan teman-teman yang baik padaku. Terima kasih jika kalian telah membaca ini, dan bagi siapapun yang telah berkata baik padaku di Reddit, dan terima kasih yang besar untuk Stanton, developer Inkwell, platform tercinta. Platform ini memang tidak sempurna, tapi dia selalu berkembang menjadi lebih baik. Kita harus bangga. Aku harap Inkwell bisa diadopsi lebih besar oleh masyarakat dunia hingga menjadi sepopuler Mastodon. Dan terakhir, segala puji hanya milik Allah yang telah mempertemukanku dengan orang-orang baik di dunia.

Ditulis dari:
Sabtu, 14 Maret 2026

Selesai pada:
Ahad, 15 Maret 2026

Foto oleh: Ra_alAndunisi

Ra_alAndunisi
Ra_alAndunisi

@ra_alandunisi · Aku Khira dan nama penaku Ra_alAndunisi. Hobiku adalah menulis, berpikir, berimajinasi dan menggambar. Aku suka apapun tentang seni, dan aku suka tulisan-tulisan yang menginspirasi atau puisi. Aku lebih aktif di Reddit dan beberapa karya ku post di sana. Jadi, jika kalian ingin tahu lebih lanjut, kalian bisa pergi ke profilku. Aku juga member dari forum FA Archive dan kalian bisa melihat profilku di sana. Jika kalian enggan, sekedar membaca artikel di sini sudah cukup ♥️

← Feed

Marginalia1

Ra_alAndunisi

My longest blog so far.